Sudah merasa akrabkan dengan obesitas atau kelebihan berat badan? Dalam dunia medis, obesitas digambarkan dengan kondisi kronis akibat penumpukkan lemak dalam tubuh yang amat tinggi. Kondisi ini terjadi karena adanya asupan kalori yang lebih banyak ketimbang aktivitas membakar kalori. Nah, hal inilah yang membuat kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak.

Obesitas bukanlah sebuah kondisi yang bisa dianggap remeh. Pasalnya, kondisi ini bisa memicu sederet masalah kesehatan lainnya. Mulai dari penyakit jantung, kolesterol tinggi, hingga diabetes.

Lantas, apa sih yang menyebabkan seseorang mengalami obesitas? Benarkah obesitas hanya dipengaruhi oleh pola makan saja?

Baca Juga : Obesitas / Kegemukan pada Remaja Bisa Disebabkan Jarang Sarapan

Dari Genetik sampai Kurang Tidur

Seperti penjelasan di atas, obesitas timbul ketika seseorang mengonsumsi makanan dengan kadar kalori dan lemak yang berlebih. Nah, kalori yang tak berubah menjadi energi (tidak terpakai), maka akan disimpan dalam bentuk lemak dalam tubuh. Seiring bergulirnya waktu, lemak yang menumpuk ini bakal menambah berat badan dan bisa mengarah pada obesitas.

Hal yang perlu digarisbawahi, obesitas tak cuma disebabkan atau dipengaruhi oleh pola makan yang tidak sehat, berlebih, dan kurangnya aktif bergerak. Ada sejumlah faktor lainnya yang bisa menyebabkan obesitas, yaitu:

  1. Faktor genetik. Faktor genetik alias keturunan bisa memengaruhi jumlah lemak yang diserap tubuh atau digunakan sebagai energi.
  2. Efek samping obat-obatan. Terdapat beberapa jenis obat yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan. Misalnya, antidepresan, obat diabetes, obat penghambat beta, antikonvulsan, dan antipsikotik.
  3. Bertambahnya usia. Seiring usia bertambah menjadi tua, maka makin besar pula risiko kenaikan berat badan. Hal ini disebabkan oleh metabolisme tubuh yang menurun dan massa otot yang berukurang.
  4. Sedentary lifestyle. Gaya hidup yang kurang aktif secara fisik atau minim gerak bisa membuat lemak makin menumpuk dalam tubuh.
  5. Penyakit tertentu. Misalnya sindrom Cushing dan hormon tiroid yang kurang dalam tubuh.
  6. Kehamilan. Wanita membutuhkan lebih banyak asupan nutrisi dari makanan saat hamil.
  7. Kurang tidur. Kurang tidur bisa menyebabkan perubahan hormon yang dapat meningkatkan nafsu makan.

Obesitas dan Kolesterol “Membunuh” Jantung

Obesitas sering kali dikaitkan sebagai penyebab berbagai penyakit serius, salah satunya adalah gagal jantung kongestif. Sebenarnya, hubungan antara obesitas dan masalah jantung beragam. Obesitas menyebabkan risiko penumpukan plak pada arteri semakin tinggi, tumpukan plak membuat resistensi tekanan dalam arteri semakin tinggi, sehingga kerja pompa jantung semakin berat, lama-kelamaan, jantung membesar karena beban kerjanya dan disebut HHD (hipertensi heart disease).

Nah, tak sedikit orang yang mengidap obesitas dibarengi dengan kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi juga tak kalah bahayanya bagi jantung. Kolesterol tinggi juga berkaitan dengan jantung, terutama penyakit jantung koroner (PJK).

Bila kadar kolesterol terlalu tinggi, maka lemak akan menumpuk di dinding arteri yang dikenal sebagai aterosklerosis. Kondisi inilah yang akan membuat arteri menyempit sehingga menghambat aliran darah ke jantung. Alhasil, pengidap kolesterol tinggi berisiko lebih tinggi mengidap angina (nyeri dada) dan serangan jantung.

Nah, bila seseorang mengidap obesitas sekaligus kolesterol tinggi, maka risiko mengidap gangguan jantung akan semakin meningkat.

Sumber : Halodoc.com, Terakhir di akses pada Februari 2021

Promosi-Dokter-di-BaliRoyalHospital

Leave A Comment

All fields marked with an asterisk (*) are required